MBG, ekonomi lokal, dan pengawasan makanan siswaIlustrasi AI — bukan dokumentasi kejadian.

Oleh: Nayyara Nida
Siswa SMA Islam Plus Darul Fuqoha Indonesia

Gerakan Literasi — Karya Siswa

Salah satu program pemerintah Prabowo Subianto adalah program makan bergizi gratis (MBG), Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program pemerintah yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak.Program ini bertujuan mulia untuk mempersiapkan generasi unggul untuk menuju Indonesia emas. Belakangan ini program makan bergizi gratis menjadi salah satu perbicangan yang paling banyak dalam beberapa tahun terakhir ini. Program ini mungkin terlihat seperti sebuah jembatan emas menuju kesejahteraan sumber daya manusia. Namun, kebijakan ini tidak hanya dinilai dari seberapa indah visi yang ada. Kebijakan yang baik dan benar itu harus diuji melalui realitas di lapangan, dan di sinilah banyak celah antara niat baik para pemerintah dan kenyataan pahit yang dihadapi masyarakat menengah kebawah.

Program ini memang bertujuan Baik, akan tetapi bagi sebagian masyarakat kelas menengah kebawah merasa dengan kehadiran program ini membawa beban yang tidak ringan. Karena semenjak kehadiran program ini semua bahan pangan menjadi menjolak tinggi harga nya. Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah potensi dampak peningkatan permintaan bahan pangan terhadap harga di tingkat konsumen. Program ini sering dapat kritikan dari masyarakat menengah kebawah bawah, khusus para ibu rumah tangga. Lonjakan harga bahan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, dan cabai di pasar menjadi salah satu masalah utama. Kenaikan ini di sebabkan oleh lonjakan permintaan mendalam dalam skala besar demi memenuhi permintaan dapur-dapur MBG. Perlu kita ketahui hukum pasar, ketika permintaan melonjak tinggi namun stok terbatas, harga melambung tinggi secara drastis dan membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak lebih keras agar uang belanja harian tetap mencukupi.

Tidak hanya sektor rumah tangga, dampak negatif program ini juga dirasakan oleh para pedagang kecil dan pelaku UMKM di sekitar sekolah. Selama ini banyak kantin sekolah tradisional, warung nasi kecil, pedagang gerobak, dan toko kecil sangat bergantung pada uang saku harian anak-anak sekolah. Namun, sejak adanya jatah makan siang gratis, kebiasaan jajan siswa berkurang drastis sehingga omset warung-warung kecil terjun bebas menurun. Banyak pedagang terpaksa merugi, mendapati dagangannya basi, dan lain lain. Mungkin alih alih menyejahterakan seluruh rakyat, tapi program ini justru dikhawatirkan mematikan sumber rezeki utama ekonomi para rakyat menengah kebawah demi mengakomodasi vendor-vendor besar.

Bahkan Persoalan di lapangan menjadi sorotan publik dengan adanya dugaan korupsi dan penyelewengan dana oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Anggaran negara yang bernilai fantastis seharusnya dibelikan bahan makanan berkualitas tinggi, namun disalah gunakan demi keuntungan pribadi. Akibatnya, makanan yang didistribusikan ke sekolah sering kali memiliki kualitas asal-asalan, porsi pas-pasan, serta kandungan gizi yang jauh dari kata layak. Hal ini memunculkan kekhawatiran mendalam di kalangan orang tua yang merasa anak-anak mereka seolah-olah dijadikan sebuah percobaan dalam proyek besar yang dimiliki oleh oknum yang bermental-mental korupsi.

Puncak dari kekhawatiran tersebut adalah meningkatnya kasus keracunan massal yang dialami sejumlah anak-anak sekolah setelah mengonsumsi makanan dari program ini. Kejadian ini bukan sekadar statistik di media massa, melainkan menyangkut nyawa dan keselamatan anak-anak manusia yang menjadi taruhannya. Kasus semacam ini membuktikan bahwa pengawasan terhadap kebersihan, higienitas, dan standar keamanan pangan masih sangat amburadul di lapangan. Jika aspek keselamatan dan kesehatan anak terus diabaikan demi mengejar target proyek, maka esensi utama untuk mencetak generasi yang sehat dan cerdas melalui program ini akan kehilangan makna sepenuhnya.

Memang secara logika program ini sebenarnya bertujuan baik tapi masih menyimpan masalah besar dibalik keberhasilan nya. Tujuan nya baik akan tetapi pelaksanaan nya masih harus di perbaiki atau di evaluasi karena jangan sampai program ini justru membuat rakyat kecil semakin tertekan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gulung tikar, celah korupsi semakin lebar, serta keselamatan anak-anak di sekolah terancam. Dan seharusnya pemerintah mau melakukan evaluasi besar besaran secara menyeluruh terhadap program MBG ini dengan cara turun lapang langsung serta melihat laporan laporan nya yang berupa fakta di lapangan.

Pelibatan pedagang pasar lokal dan UMKM di sekitar lokasi untuk menangani urusan suplai makanan perlu dilakukan secara nyata. Selain itu, aliran dana harus diawasi secara ketat untuk mencegah praktik korupsi, serta standar kebersihan dapur wajib dijaga demi kesehatan peserta didik.

Berbagai hal mendasar tersebut harus segera dibenahi agar program yang sejak awal berniat mulia menolong masyarakat tidak berubah menjadi beban paling berat bagi rakyat kecil.Agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini benar-benar mencapai tujuannya tanpa menyusahkan rakyat, pemerintah perlu melakukan beberapa langkah perbaikan penting. Pertama, libatkan petani lokal, pasar tradisional, dan UMKM di setiap kecamatan sebagai penyedia bahan baku agar ekonomi warga ikut berputar dan harga di pasaran tidak melonjak. Kedua, ubah sistem distribusi yang terpusat menjadi dapur komunitas berbasis gotong royong agar makanan lebih segar dan mudah diawasi kualitasnya. Ketiga, perketat pengawasan aliran dana dan wajibkan standar kebersihan yang tinggi tanpa kompromi guna mencegah korupsi serta kasus keracunan. Terakhir, pemerintah harus rajin turun langsung ke lapangan untuk mengevaluasi pelaksanaan program secara berkala demi memastikan keselamatan dan kesehatan anak-anak benar-benar terjaga.

Krisis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pengingat bahwa janji politik tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus benar-benar diwujudkan. Anak-anak seharusnya bisa makan dengan aman dan tenang di sekolah, tanpa rasa takut makanan yang mereka makan justru membahayakan kesehatan mereka.Kalau hal itu belum bisa terjamin, rasanya sulit untuk kita katakan bahwa Indonesia sudah benar-benar maju. Sampai sebelum masalah ini bisa diselesaikan, MBG masih menjadi persoalan yang harus kita perhatikan serius, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan dan keselamatan anak-anak, tetapi juga kepercayaan masyarakat

Sumber:

https://m.tribunnews.com/bisnis/7735057/aliansi-ekonom-beberkan-dampak-negatif-progra m-mbg-food-waste-hingga-kenaikan-harga-pangan

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7736128/curhat-ibu-kantin-soal-program-makan-gratis

https://unand.ac.id/berita/opini/1504-opini-mahasiswa-mbg-program-pemerintah-janji

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI untuk menggambarkan tema tulisan; bukan dokumentasi kejadian.