Ilustrasi AI — bukan dokumentasi kejadian.Oleh Keisha Putri M
Siswa SMA Islam Plus Darul Fuqoha Indonesia
Pukul empat lewat lima belas pagi. Suasana di kompleks Sekolah Rakyat (SR) masih sunyi, embun-embun yang kerap kali menempel di jendela membuat suasana pagi seketika menjadi dingin tapi itu tidak menggoyahkan mereka, ketika lampu-lampu kamar asrama mulai dinyalakan. Satu per satu siswa keluar kamar untuk mengambil air wudhu dan shalat subuh berjamaah, dilanjut dengan merapikan tempat tidur masing-masing.
Buat anak-anak yang dulunya akrab dengan jalanan atau harus bantu-bantu orang tua cari uang sejak kecil, bangun pagi dan hidup tertata seperti ini jelas bukan hal gampang bagi mereka. Tapi begitulah alurnya di program sekolah berasrama gratis bikinan Pak Prabowo. Mereka diajarkan disiplin, mandiri, dan dibikin punya rutinitas baru supaya masa depannya tidak stuck di situ-situ saja.
Sasaran program ini jelas buat anak-anak dari keluarga kurang yang mampu atau lapisan bawah. Jadi, urusan biaya yang biasanya bikin pusing, di sini sudah beres semua. Mau itu tempat tinggal di asrama, seragam, buku, sampai urusan makan, makan tiga kali sehari plus susu dan snack semuanya sudah ditanggung negara. Kalau ada yang sakit pun, sudah disiapkan klinik yang siaga 24 jam.
Lewat program ini, anak-anak dari tingkat SD sampai SMA tidak cuma sekolah formal biasa. Di asrama, mereka punya jadwal belajar bareng, kegiatan seru buat ngasah skill, dan waktu buat kumpul bareng teman-teman. Intinya, negara ingin mengasih lihat kalau anak-anak dari keluarga pas-pasan juga punya hak yang sama buat mengenyam pendidikan yang layak, sukses, dan mereka bisa lepas dari rantai kemiskinan keluarga.
Menariknya lagi, tinggal di asrama bersama ratusan anak dari berbagai daerah membuat dinamika sosial di sini menjadi hidup. Mereka yang tadinya mungkin tidak mengenal satu sama lain, lama-lama jadi support system paling solid. Kalau ada teman yang lagi down karena merasa rindu rumah atau kesulitan mengerjakan PR matematika, yang lain bakal turun tangan untuk membantu. Tidak ada pilih-pilih teman di sini, karena mereka semua ada di titik start yang sama.
Rutinitas harian mereka juga tidak cuma di dalam kelas. Selepas jam pelajaran sekolah selesai, kawasan asrama langsung berubah menjadi tempat yang ramai sama berbagai aktivitas ekstrakurikuler. Ada yang ikutan klub olahraga, ada yang sanggar seni, sampai anak-anak yang hobi mendalami komputer dan teknologi. Pemerintah paham kalau kemampuan akademik itu penting, tapi kemampuan komunikasi dan kreativitas juga tidak kalah penting buat bekal mereka terjun ke masyarakat.
Banyak dari mereka yang awalnya pemalu dan kurang percaya diri, pelan-pelan mulai berani bicara waktu diskusi kelompok atau pegang peran di acara sekolah. Perubahan kecil seperti ini yang membuat para guru dan pengurus asrama terharu. Mereka sadar bahwa program ini bukan sekadar bagi-bagi fasilitas gratis, tapi benar-benar ngebangun pola pikir baru bahwa anak-anak ini punya potensi yang besar dan layak diperhitungkan.
Orang tua mereka di rumah juga merasakan dampak yang luar biasa besar. Bayangin aja, beban pikiran buat mikirin uang SPP bulanan, beli buku cetak baru tiap tahun ajaran, atau bahkan sekadar memastikan anak-anak mereka bisa makan layak tiga kali sehari, tiba-tiba diangkat begitu saja oleh negara. Buat para orang tua yang banting tulang sebagai buruh harian atau pedagang kecil, Sekolah Rakyat ini ibaratkan jawaban atas doa-doa panjang yang sering mereka panjatkan di sepertiga malam.
Tentu saja, proses adaptasi di awal tidak selalu mulus seratus persen. Namanya juga anak-anak yang tadinya bebas tanpa aturan ketat, begitu masuk sistem asrama dengan bel disiplin yang bunyi tepat waktu, pasti ada rasa kaget atau rindu rumah di minggu-minggu pertama. Tapi pihak sekolah punya cara tersendiri untuk menangani itu. Para guru dan pembina asrama di sana tidak cuma berfungsi sebagai pengajar, tapi juga berperan sebagai orang tua kedua yang siap dengerin curhatan mereka kapanpun dibutuhkan.
Di sinilah letak keindahan dari Sekolah Rakyat. Tempat ini bukan cuma sekadar bangunan fisik dengan fasilitas lengkap, melainkan sebuah ruang inkubasi harapan. Tempat di mana anak-anak pinggiran jalan dan keluarga prasejahtera dikumpulkan,dididik, dan diasah supaya siap terbang tinggi menjemput masa depan.
Matahari mulai meninggi di atas kompleks sekolah, menghapus sisa-sisa embun pagi yang tadi sempat bikin menggigil. Di dalam kelas, suara tawa dan semangat belajar anak-anak mulai terdengar bersahut-sahutan. Mereka sedang menulis cerita baru untuk hidup mereka, cerita tentang anak-anak biasa yang berani bermimpi luar biasa, siap membuktikan bahwa takdir kemiskinan bisa diputus dengan kerja keras, kedisiplinan, dan kesempatan yang adil.




